Dua Sajak yang Kutulis Setelah Mengunjungi Dua Pantai
Di Pantai Siungseperti alis untuk sepasang mata hitam milik seseorangdi Pantai Siung, ada dua sisi karang melengkung ke dalamseperti senyum seperti pelukan dahulu terkikis dari benaktapi dihantam berkali-kali oleh ombak panjang dan garangahai, berdiri di tengah-tengah rentang hampar pasir inisungguh jantungku ingin terbang, lalu jatuh tergeletakagar disambut oleh buih laut, dan hanyut saja perlahanmenyaksikan bening air, liuk rumput laut dan bebatuantapi ada yang memanggil-manggil dari kejauhan dari ujungseperti memanggil pulang seperti menolak suatu kenangdi
Payet
Payetaku melihat kau sebagai kilau melekat di atas kain bercorak batikkau melihatku sebagai wajah penjajah bermata tigaaku mengendusmu dan mencium aroma rempah buah pala dan cengkehkau membauiku seperti anjing penjaga yang selalu curigaaku membayangkan pulau hijau bersungai panjang bak firdauskau lalu memantulkan gambar hutan terbakar dan tanah tandusaku mencatat rencana-rencana besarkau melempariku selembar kertas hitam dan pena hitamaku merekam cahayamudalam kekagumankau seketika berdarahpelan-pelan
Sadar
Sadarharus ada yang terperangkap dalam setiap rencana karena waktu bukan sabun pakaian atau pasta gigi bukan deodoran atau parfum yang terus menyamarkan kerak-kerak di lekuk tubuh karena waktu bukan tempat sampah bukan kakus bukan gudang barang-barang bekas dan usang maka harus ada yang tercatat dalam setiap renungan sebab aku bukan sabun bukan deodoran bukan tempat sampah bukan gudang belaka harus ada yang tertulis oleh puisi karena aku hanya jeda hanya tanda bukan waktu bukan pula Dirimu
Questions? contact: networkedblogs@ninua.com
Copyright (C) 2008, Ninua, Inc.